Menunggu Itu Membosankan

Setelah pertolongan datang, aku berhasil selamat kembali ke atas jalan beraspal. Aku dinaikkan mobil pick-up milik tetangga. Saat itu aku duduk di samping sopirnya. Sementara itu, Arjuna bersama kakaknya ada di depan berboncengan dengan sepeda motor laki yang lumayan keren untuk ukuran waktu itu…

Aku menegakkan tubuhku selepas sukses mengikatkan tali sepatuku sehingga terasa nyaman di kaki. Kemudian, aku merapikan posisi dudukku serta juga posisi kedua kakiku agar enak dan pantas dilihat oleh orang-orang yang lalu lalang di gang desa di depan rumahku. Saat ini, aku sedang menunggu Arjuna yang akan mengajakku melamar pekerjaan di kota. Pekerjaan yang aku lamar itu bukanlah pekerjaan yang sulit, namun cukup berat jika ditilik dari tanggung jawab yang akan dibebankan kepada kami jika lamaran kami diterima. Pekerjaan tersebut adalah sales promotion boy suatu produk rokok elektrik. Bahkan pernah memegang produknya saja belum, ini disuruh jualan, keluhku di dalam hati. Namun begitu, daripada aku menganggur terus dan tidak produktif, mungkin ini perlu aku jalani juga ya, demikian pertimbangan yang aku jadikan pegangan saat ini.

Beberapa saat kemudian, suara motor laki yang tidak begitu keras semakin mendekat. Aku sadar itu adalah suara motor milik kakaknya Arjuna yang dipinjam oleh Arjuna untuk melamar pekerjaan ke kota. Kebetulan aku yang dulu teman sekelasnya masih menganggur makanya dia mengajak aku sama-sama melamar pekerjaan di tempat yang sama. Si Arjuna mau-maunya menjemput aku padahal aku seorang pria, tidak memiliki saudara wanita, dan tidak terlahir dari keluarga yang kaya lagi.  Ini terjadi mungkin karena dia memiliki harapan tertentu kepadaku. Mungkin juga dia memiliki keinginan untuk tetap bersahabat denganku di tempat kerja atau mungkin juga ada keinginan yang lain, entahlah aku juga kurang begitu paham. Kenapa aku begitu curiga dengan Arjuna kali ini?  Mungkin karena menurutku di jaman yang seperti sekarang ini sangatlah jarang ada orang yang mau berbuat kebajikan tanpa adanya pamrih tertentu yang terkandung di dalamnya.

Arjuna terlihat datang dengan motor kakaknya. Aku segera berjalan secepat mungkin sambil membawa tasku kearahnya. Setelah saling menyapa dan berbasa-basi sejenak aku kemudian membonceng di belakangnya. Arjuna membawa motornya tidak begitu kencang, namun juga tidak begitu perlahan pula. Mungkin karena aku seorang pria atau bagaimana entahlah aku kurang begitu tahu. Jika yang membonceng Arjuna saat ini adalah seorang wanita aku yakin dan percaya cara dia membawa motornya akan berbeda pula. Namun begitu aku tidak yakin bedanya di mana, soalnya aku belum pernah melihat Arjuna membonceng seorang wanita pun. Mungkin memang karena orangnya sedikit tertutup kepada wanita atau memang kurang menarik bagi wanita atau bagaimana aku juga kurang tahu pasti. Padahal tampangnya bukanlah termasuk tampang yang jelek bahkan cenderung bagus menurutku, itu pun kalau dibandingkan dengan tampangku yang pas-pasan begini ya…

Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di perempatan yang ramai. Perempatan ini merupakan perempatan terdekat dari desa kami. Perempatan ini ada di ibukota kecamatan dimana merupakan kecamatan yang melingkupi desa kami. Meskipun saat ini kami berada di ibukota kecamatan, namun bukan di kota ini kami akan melamar pekerjaan. Kami akan melamar pekerjaan di kota yang merupakan ibu kota propinsi tempat kami tinggal. Kota tersebut masih jauh, masih memerlukan waktu kurang lebih 1 jam untuk kesana. Masih di lampu merah ketika Arjuna menolak untuk aku gantikan posisinya sebagai pembonceng. Dia ngotot tidak mau gantian siapa yang membonceng. Namun akhirnya dia mau juga gantian nanti saat pulangnya. Kemudian kami pun terdiam dan melanjutkan kembali perjalanan kami setelah lampu merahnya hijau.

Tidak banyak yang perlu diceritakan di sepanjang perjalanan menuju ibukota propinsi dimana aku dan Arjuna akan melamar pekerjaan. Namun begitu, adakalanya kami melintas tempat-tempat yang sepi dikarenakan memang jalan yang kami lewati terkadang membelah daerah yang bisa dibilang masih hutan yang lebat. Bukan hutan-hutanan begitu melainkan hutan pohon jati maupun hutan campuran yang masih gelap. Bukan apa-apa, namun melewati jalan yang sepi begitu kami harus berhati-hati soalnya menurut banyak orang, sering terjadi dari cabang pohon yang memanjang di atas jalan ada berbelit ular sanca besar yang bisa menyambar kepala atau bahu kami dari atas ketika kami lewat di bawahnya. Meskipun memang kami memakai helm, hal ini bisa membuat kami kaget dan kehilangan keseimbangan pula…

Sesampainya di ibukota propinsi tempat dimana aku dan Arjuna akan melamar pekerjaan, kami berbelok ke pom bensin karena bensin sepeda motor milik kakaknya sudah hampir habis. Hal ini diketahui oleh Arjuna ketika dia melirik ke arah speedometernya dimana disana terdapat meteran bensin yang bisa menunjukkan jumlah bensin tersisa di dalam tankinya. Arjuna membeli premium, jenis bensin termurah di pom bensin yang disediakan oleh dinas perminyakan negara kami. Arjuna menolak aku traktir bensinnya karena memang sudah dibekali uang untuk beli bensin oleh ibunya. Selain dibekali uang untuk beli bensin, kata Arjuna, dia juga dibekali sedikit uang buat beli makan siang atau sekedar beli es teh penghilang haus. Akupun begitu, tetapi bukan setiap mau keluar dikasih uang saku oleh ibuku. Ibuku lumayan pelit jadi cuma kasih aku uang seminggu sekali sehingga aku harus memutar otak biar bisa menggunakannya tanpa kehabisan uang saku di akhir minggu.

Setelah melongok aplikasi GPS yang ada di telpon genggamnya, Arjuna dan aku melanjutkan perjalanan ke kantor tempat kami akan melamar pekerjaan. Setelah lampu merah itu kita belok ke kiri terus kantornya ada di kiri jalan, demikian kata Arjuna kepadaku. Iya, aku mengiyakannya dengan baik. Sesampainya di kantor yang dimaksud, kami diarahkan oleh satpam yang bertugas untuk memarkir sepada motor yang kami bawa di tempat parkir yang telah disediakan. Namun begitu, kami juga menemukan bahwa tempat parkir karyawan kantor dengan tempat parkir pelamar pekerjaan dibedakan dengan sebuah tulisan yang ditempelkan pada stand yang terbuat dari besi setinggi kurang lebih 1 meter. Oleh karena itu, Arjuna memarkir sepeda motornya di tempat parkir di belakang stand dengan tulisan “Pelamar”. Sukses memarkir sepeda motornya, Arjuna bersama aku berjalan ke emperan depan kantor. Kenapa ada emperannya? Karena kantor tersebut menggunakan gedung lama yang model atapnya ada emperannya. Mungkin memang karena anggarannya yang terbatas atau memang yang punya kantornya suka gaya bangunan lama sehingga menyewa gedung untuk kantornya yang memiliki model begini atau bagaimana tepatnya aku juga kurang begitu paham…

Arjuna dan aku kemudian dipersilahkan duduk menunggu di ruang tunggu setelah sebelumnya mengisi buku tamu di meja resepsionis yang aku kenali dari adanya tulisan “Resepsionis” di atasnya. Di ruang tunggu tempat kami menunggu tersebut banyak orang yang telah duduk disana. Menilik dari cara mereka berpakaian, kami berpikir mereka juga melamar pekerjaan di kantor yang sama dengan kami…

Bagikan Ini
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *