Cahaya Dari Dalam Bumi Bagian 2

Aku terus berlari menyusuri jalan beraspal yang terdapat beberapa bagian yang rusak di permukaannya. Kabut yang ada, meskipun tidak terlalu tebal, menghalangi pandanganku. Aku hanya bisa memandang beberapa meter kedepan, mungkin 5-7 meter saja. Disamping kanan jalan aku melihat tebing yang terjal dimana terdapat lumut-lumut, pakis-pakis, serta rerumputan yang tumbuh diatasnya. Sepertinya mereka sangat licin karena aku melihat embun yang bergantung dan bertetesan sampai terlihat basah kuyup seperti kehujanan. Aku terus berlari semakin keatas. Kini, pandanganku mengarah ke samping kiri jalan. Di samping kiri jalan aku melihat lembah yang dalam dimana hanya terdapat sedikit pepohonan yang ada di lerengnya. Terkadang memang ada pagar di sisi sebelah kanan, namun terkadang tidak ada, sehingga pemandangan di sisi kiri jalan terlihat mengerikan.

Samar-samar beberapa meter di depan aku melihat kelokan jalan ke kiri, namun sebelumnya dia berkelok ke kanan sedikit terlebih dahulu. Aku berlari terus ke atas, kearah kelokan itu. Keringat terus mengucur, namun karena hawa dingin terasa sekali di tengkukku, keringat tersebut sepertinya mampat dan tidak terlalu banyak sehingga tidak terasa menyiksa. Setelah dekat dengan kelokan itu, aku melihat ke samping kiri jalan. Aku merasa terperanjat dengan sedikit rasa ngeri di hatiku. Setelah kupikir-pikir sebentar rasa ngeri ini timbul ketika aku menyadari bahwa aku telah melihat tiang-tiang pagar di sebelah kiri jalan roboh ke arah jurang. Aku memperlambat lariku dan kemudian menghampiri salah satu tiang pagar yang roboh itu. Setelah dekat, aku melongok ke arah jurang untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi disana.

Angin pagi yang dingin disertai sedikit embun terasa meniup tengkukku. Hal ini membuat keringatku sedikit mengering dan terasa nyaman. Aku yang sedang duduk di pinggiran aspal di sebelah kiri jalan masih memikirkan apa yang tadi telah aku lihat di jurang di sebelah kiri jalan, tepat di bawah tiang pagar terbuat dari beton yang roboh itu. Yang aku pikirkan diantaranya adalah bagaimana nasib sopir dan kawan-kawannya, dimana mereka ada diatas truk saat menabrak tiang pagar yang aku sebutkan tadi. Pastilah kejadiannya sangat mengerikan serta sangatlah gaduh dan hiruk pikuk adanya. Aku memahami mereka bisa jadi telah meninggal dunia atau mengalami luka-luka yang berat, namun aku juga tidak bisa menolong karena kelihatannya kejadian tersebut terjadi tadi malam serta saat ini tidak ada satu orang pun ada di sekitarku. Hal ini membuat aku merasa capek dan malas untuk melanjutkan lariku terus ke atas.

Setelah keringatku terasa kering, aku mulai berdiri dan kemudian memutuskan untuk kembali turun kearah desa Mawar Mekar saja dan kemudian beristirahat di rumah. Aku mulai berjalan di kiri jalan menjauhi puncak gunung terus kemudian pulang ke rumah. Di sepanjang jalan tidak ada yang perlu aku ceritakan lagi soalnya pemandangan yang ada sama saja, kecuali matahari mulai terlihat naik serta kabut terlihat semakin menipis, mungkin karena kepanasan atau apa entahlah aku kurang begitu paham masalah kabut begini ini ya. Secara jalannya menurun, aku sepertinya mulai tidak berkonsentrasi pada kegiatan lariku ini. Aku yang tadinya berjalan perlahan semakin lama semakin cepat dan kini aku telah berlari secepat tadi waktu berangkat keatas. Setelah berlari beberapa lama dan semakin lama semakin mendekati desa Mawar Merah, aku melihat jalan yang kulewati rusak pada beberapa bagiannya. Namun, aku sudah merasa terlalu lelah untuk berhati-hati hingga akhirnya aku merasa tergelincir ketika menginjak beberapa buah batu kerikil besar di tengah jalan beraspal ini.

Aku terguling dari tengah jalan dan terus berguling demikian sampai ke sisi sebelah kanan jalan dimana sisi itu adalah sebuah jurang! Aku baru menyadari hal tersebut ketika aku gagal meraih tiang pagar beton yang terdekat sehingga aku semakin panik oleh kenyataan bahwasanya aku akan segera mati karena terus bergulingan dan mulai masuk ke dalam jurang. Aku semakin panik, kedua tanganku menggapai-gapai mencari pegangan kemana-mana namun semuanya adalah rumput dan pakis-pakisan yang licin, sementara kakiku pun tidak mendapatkan tempat berpijak yang cukup kuat untuk menahan laju gulingan tubuhku. Kini, tubuhku tidak terasa berguling lagi, dan bahkan cenderung merosot ketika secara tiba-tiba tubuhku menabrak sebuah gundukan batu yang dikelilingi oleh pakis yang licin. Pinggang kananku terasa sakit, namun begitu seketika itu juga terpikirkan olehku bahwa aku tidak boleh kalah oleh keadaan, dan aku harus menang melawan keadaan ini!

Aku kemudian dengan sepenuh tenaga mencengkeramkan kedua tanganku kearah pakis-pakis yang bergerombol dan tumbuh di sekitar batu itu, yaitu batu dimana tubuhku telah mengenainya sehingga melambat dan tidak terus menggelosor sampai ke dasar jurang yang dalam. Beruntung sekali, pakis-pakis tersebut cukup kuat serta memang batu yang muncul juga cukup besar dan banyak sehingga kakiku pun bisa mengambil pijakan padanya sehingga tubuhku berhenti dan tidak jadi merosot jatuh ke dalam jurang. Aku tiba-tiba menarik napas yang panjang sekali, kemudian menahannya sebentar, dimana tidak lama kemudian aku melepaskannya lagi. Saat inilah untuk yang pertama kalinya aku menghela napasku secara dalam-dalam. Namun demikian, aku merasa bingung bagaimana caranya agar aku bisa naik kembali lagi ke atas, yakni kembali ke jalan beraspal tempatku tadi jatuh tergelincir. Secara rumputnya licin serta tebingnya curam maka akan sangat sulitlah kiranya agar aku bisa memanjat naik kesana.

Hari semakin siang dan aku harus segera pulang atau aku akan dimarahi oleh ibuku. Teringat akan hal itu, semangatkupun mulai tumbuh. Aku merasakan tubuhku menjadi bertenaga, rasanya seakan-akan ada cahaya dari dalam bumi berwarna merah tua yang mendesakku agar segera naik keatas. Aku hampir menjadi mata gelap dimana tidak ada yang kuingat lagi kecuali harus bisa naik ke jalan yang di atas sana. Secara perlahan aku kemudian mulai merangkak naik, kedua kakiku pun akhirnya sukses menginjak bagian paling tinggi dari gundukan batu yang saat ini menopang tubuhku. Serta merta aku melihat keatas, aku lihat Arjuna mengulurkan tangannya untuk menolongku. Namun jaraknya terlalu jauh untuk kugapai. Kakaknya yang ada disampingnya berbisik sebentar untuk kemudian meninggalkan Arjuna sendirian di sana. Beberapa saat kemudian, terdengar suara motor laki yang di gas besar menuruni gunung yang mana semakin lama semakin terdengar menjauh.

Arjuna yang ada di pinggir jalan beraspal dan berada diatas berteriak serta memberi aba-aba kepadaku agar diam ditempat. Aku menurut dan tidak melakukan apa-apa lagi, hanya menunggu sesuatu yang akan terjadi pada saat yang akan datang berikutnya nanti…

Bagikan Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *