Cahaya Dari Dalam Bumi Bagian 1

Aku bergegas mengambil tasku ke dalam kamarku. Kembali keluar, dengan tas di tangan kiri aku mengambil sepatuku yang kuletakkan di depan kursi tempatku tertidur sebentar tadi. Sudah lengkap di tangan kiriku tas dan di tangan kananku sepasang sepatu dengan sepasang kaos kaki pula didalamnya, aku bergegas menuju ke depan rumahku. Sesampainya di depan pintu rumahku, aku berbelok ke kiri karena akan duduk di bangku yang ada di sebelah kiri pintu rumahku, masih di area teras rumahku. Sebenarnya rumah ini bukan milikku, tetapi milik ibuku. Namun, bagi banyak orang, sudah menjadi kebiasaan umum seorang anak yang tinggalnya masih bersama ibunya akan mengakui rumah yang ditinggalinya sebagai miliknya. Meskipun demikian, bukanlah merupakan hak milik yang sah secara hukum.

Selepas berhasil sampai di depan bangku di teras rumahku, aku meletakkan tasku di atasnya, serta sepatu di atas tanah tepat di depannya. Aku kemudian membalikkan badanku sehingga menghadap ke arah yang sama dengan arah rumahku. Secara perlahan-lahan aku duduk di atas bangku tersebut. Kemudian aku menghela napas perlahan. Beberapa detik kemudian aku mengambil sepatuku yang sebelah kanan dengan tangan kananku. Karena sepatu itu ada di atas tanah dan posisiku sedang duduk di atas bangku, aku perlu merundukkan badanku sehingga tanganku bisa menggapai sepatuku itu secara sukses.

Aku kemudian menarik sepatuku yang sebelah kanan, kemudian mengambil kaus kaki yang ada di dalamnya dengan tangan kiriku. Kemudian, aku kembali meletakkan sepatuku yang sebelah kanan di atas tanah. Aku kemudian secara perlahan-lahan mengenakan kaus kaki kananku di kaki kananku sehingga terasa pas serta enak dilihat. Tidak memerlukan jeda waktu yang terlalu lama ketika kemudian aku mengenakan sepatuku yang sebelah kanan di kaki kananku yang telah aku kenakan kaus kaki kananku padanya. Aku injak-injakkan kaki kananku ke tanah pelan-pelan sambil aku menarik tali sepatuku yang sebelah kanan dengan kedua tanganku. Masih dengan posisi yang merunduk, aku menalikan tali sepatuku sehingga tidak akan kendur atau terlepas meskipun aku memakai sepatuku untuk berlari kencang.

Begitu pula aku lakukan pada sepatuku yang sebelah kiri sehingga sepasang sepatuku terpasang secara baik di kedua kakiku ini. Aku kemudian menegakkan badanku sambil menghela napas panjang agar merasa lega. Memang benar bisa terasa lega tetapi terkadang aku merasa kebiasaanku menghela napas ini kurasakan sedikit aneh dan jarang aku temui ada pada teman-teman sebayaku. Kebiasaan milikku ini sebenarnya bukanlah kebiasaan yang terlalu buruk, namun sedikit memalukan. Kebiasaan tersebut biasanya aku lakukan ketika secara tiba-tiba aku terpikir akan hal-hal yang pernah aku lalui di masa lalu. Juga, ketika selepas menahan napas yang terkadang aku lakukan secara tidak sengaja seperti yang tadi aku lakukan pada saat mengenakan sepatu.

Namun begitu, aku ingat, kebiasaan milikku tersebut aku dapatkan pada suatu ketika di tengah-tengah musim kemarau yang terasa kering. Saat itu memang benar musim kemaraunya terasa kering jika dibandingkan dengan musim kemarau yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Namun begitu, di sungai yang ada di sebelah selatan desa tempatku tinggal ini, air tetap saja mengalir biarpun sedikit. Hal ini mungkin karena dekat dengan sumbernya yang berada tepat diatas desa, yakni di suatu tempat di lereng gunung yang berada di sebelah timur. Aku ingat, waktu itu aku dan teman-temanku sedang keranjingan berolahraga lari di setiap pagi hari dimana sekolah sedang libur. Entah kenapa olahraga lari menjadi trend saat itu aku juga kurang mengerti, namun tetap saja hampir setiap hari minggu di pagi hari aku sudah mandi keringat lari ke arah timur menaiki lereng gunung yang semakin ke timur semakin terjal…

Seperti yang aku lakukan di minggu pagi yang dingin hari itu aku berangkat lari dengan penuh semangat. Saat itu aku cuma sendirian soalnya Arjuna tidak bisa ikut lari pagi karena katanya ada sesuatu yang harus dikerjakan tepat di pagi yang sama. Katanya juga, dia akan menyusul aku setelah hari agak siang bersama kakak lelakinya naik sepeda motor laki yang waktu itu sudah sangat keren dipakainya. Kalau begitu aku lari pagi sendirian ya, kataku padanya pada sore hari sebelumnya. Iya, lari saja. Cuma kamu harus berhati-hati soalnya di pagi hari di musim kemarau seperti ini kabut yang turun biasanya tebal. Mending pelan-pelan daripada nanti terperosok ke jurang atau jatuh terkilir karena kakimu masuk lubang di jalan yang rusak karena pandanganmu yang jadi terbatas, kata Arjuna waktu itu. Oke, begitu jawabku mengiyakan.

Meskipun bersemangat, waktu itu aku tidak bisa lari cepat-cepat soalnya kabut pagi yang cukup tebal menghalangi pandangan mataku. Selain tidak bisa melihat jauh ke depan, aku juga harus melihat ke jalan beberapa langkah ke depan takut kalau kakiku terperosok ke dalam lubang di tengah jalan yang disebabkan oleh aspalnya yang telah terkelupas. Memang benar terkelupasnya aspal tersebut disebabkan oleh lewatnya truk bermuatan batu kali yang berat, akan tetapi aku tidak membenci mereka dikarenakan banyaknya tulisan-tulisan lucu yang sengaja mereka buat pada bak-bak yang mereka bawa. Salah satu diantaranya adalah tulisan yang berbunyi “Lali rupane eling rasane” yang mana aku tahu artinya tetapi tidak tahu maksudnya, maklum aku kan masih remaja apalagi aku bukan orang yang satu bahasa dan satu daerah dengan pemilik truk tersebut ya…

Memang kebanyakan truk-truk yang lewat adalah milik penduduk sekitar yang bukan orang luar daerah tempatku tinggal, tetapi ada saja satu atau dua truk milik mereka yang mencari batu kali ke atas di dekat hulu sungai yang aku ceritakan tadi. Mengapa itu terjadi akupun kurang begitu mengerti namun kabarnya mereka sangat suka bekerja keras untuk mencari uang yang banyak. Sayang sekali, kabarnya pula, uang dari sebagian kecil dari mereka ada yang biasanya cepat habis apalagi kalau kenal sama cewe-cewe yang ada di sekitar kaki gunung yang ada tepat di atas desaku, yakni desa Mawar Mekar tercinta ini. Ini pun juga aku kurang mengerti kenapa bisa begitu, mungkin karena kembali pada alasan yang sama dengan yang telah aku sebutkan tadi yakni karena aku masih remaja yang polos dan tidak tahu apa-apa…

 

Bagikan Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *