Sepatu Dan Rasa Hormat

Setelah mengenakan baju lengan panjangku secara sempurna, aku menghitung kancing-kancingnya. Aku harus memastikan bahwa semua kancing-kancingnya ada sehingga aku tidak malu saat berada di depan team penguji nantinya. Bahkan, bukan hanya di hadapan team penguji, di hadapan semua orang pun aku tidak suka kalau merasa malu. Sedangkan, tidak adanya satu kancing baju pun pada bajuku akan membuatku merasa malu. Setelah aku yakin semua kancing bajuku ada, aku kemudian mengganti celana pendekku dengan celana panjang warna hitam milikku. Dengan mengenakan celana panjang warna hitam begini, aku yakin aku nampak lebih sopan serta sedikit lebih profesional. Dengan penampilan yang begitu, aku pun merasa yakin nantinya akan bisa menarik simpati team penguji sehingga meluluskan aku saat test penerimaan karyawan baru yang kelihatannya akan dilakukan nanti sore.

Kemudian aku memasukkan baju lengan panjangku ke dalam celana panjangku. Setelah selesai mengancingkan celana, aku mengenakan ikat pinggang yang memiliki warna sama dengan warna celana panjangku yakni warna hitam. Ikat pinggang dengan kepala terbuat dari besi bermerk “Crocodille” warna emas mengikat pinggangku serta menahan celana panjangku agar tidak melorot jatuh saat aku bergerak ataupun berjalan nanti. Setelah yakin semuanya beres, aku mulai mencoba menemukan sepatuku yang seingatku kuletakkan di pojok kamarku beberapa waktu yang lalu. Beberapa waktu yang lalu ini bisa memiliki arti: beberapa hari yang lalu, beberapa minggu yang lalu, atau beberapa satuan waktu yang lainnya, namun tidak sampai berbulan-bulan. Itu merupakan pemahamanku dari kosakata “beberapa waktu yang lalu” yang telah aku miliki dan kuasai selama ini.

Aku hampir merasa putus asa ketika aku sudah mencoba untuk mencari sepatuku di dalam kamarku namun tidak kunjung ketemu juga. Aku kemudian keluar dari kamarku dengan menggunakan sandal jepit agar telapak kakiku tidak terasa dingin karena menginjak lantai berlapis tegel. Lantai rumahku memang dingin soalnya rumahku yang ada di desa Mawar Mekar itu berlokasi di lereng gunung yang berhawa sejuk. Setelah berada di luar kamarku, aku mulai mengelilingi setiap sudut bagian dalam rumahku untuk mencari sepatu yang akan kukenakan sebentar lagi. Setelah beberapa saat mencari, aku merasa capek dan lelah karena sepatuku tidak juga kunjung ketemu, apalagi aku mendekati momen yang aku rasa sangat penting bagi hidupku yakni momen melamar pekerjaan di kota nanti bersama Arjuna teman sepermainanku. Ini menambah rasa capek yang aku sedang aku rasakan…

Aku merasa telah melakukan tugasku dengan baik. Semua rumput-rumput di pinggiran sawah milik ibuku telah aku cabuti semua. Mereka aku kumpulkan di pematang sawah, kemudian setelah aku mau pulang aku jadikan satu pada suatu tanah di pematang yang sengaja sedikit dilebarkan untuk membakar sampah. Aku merapikan rumput-rumput yang baru saja aku kumpulkan agar tidak di marahi oleh pemilik sawah di sebelah sawah ibuku. Orang tersebut meskipun sudah tua namun sangat memperhatikan apa saja yang dilakukan orang lain yang berada di dalam jangkauannya, termasuk aku. Daripada jadi jengkel kena marah olehnya, serta aku tidak mau menanggung resiko kalau orang tersebut juga melaporkan aku kepada ibuku, aku merasa lebih baik mengalah dan merapikan rumput-rumput tersebut dengan sebaik-baiknya.

Setelah selesai, aku duduk mengaso sebentar agar keringatku tidak kelihatan bercucuran saat aku berjalan di jalanan desa Mawar Mekar. Hal ini sengaja aku lakukan agar aku tidak kelihatan kalau baru pulang dari sawah. He he he. Apalagi kalau sampai bertemu sama gadis-gadis yang banyak ditemukan di desaku, wah bisa mati kutu dan jatuh pasaran aku. Lain halnya kalau baru pulang dari sekolah, nah ini dulu waktu aku belum lulus sekolah, mereka pasti asyik-asyik saja serta tidak melakukan apa-apa ketika melihatku pulang. Tetapi ini, baru pulang dari sawah, penuh keringat lagi! Aku tidak mau mereka memandangku dengan sebelah mata. Oleh sebab itulah aku memerlukan untuk sedikit menggunakan waktuku untuk mengaso sebentar di pematang sawah milik ibuku ini.

Angin sepoi-sepoi meniupku dan membuat tengkukku kering dari keringat yang mengguyurnya lebih cepat daripada sangkaanku semula. Merasa senang akan hal ini, aku kemudian berdiri dan mulai berjalan meninggalkan sawah milik ibuku ini. Tidak banyak yang aku pikirkan dan aku ingat-ingat di sepanjang jalan menuju rumahku, kecuali beberapa kali menyapa orang-orang yang kebetulan bertemu dengan aku di sepanjang jalan. Belum juga sampai rumahku, melainkan beberapa belokan lagi ketika aku bertemu dengan seseorang yang sudah setengah baya, mengenakan pakaian hitam layaknya petani yang sedang pulang dari sawahnya. Namun demikian, aku melihat ada yang janggal pada pada dirinya yakni orang tersebut tidak memakai sandal. Yang lebih aneh lagi orang tersebut membawa sandalnya diatas kepalanya. Aku berniat lari cepat-cepat namun aku terlambat soalnya orang tersebut sempat berkata agar kita selalu menghormati sandal yang kita pakai…

Aku terperanjat dari kursi tempat aku duduk dan tertidur. Aku sadar bahwa sepatuku belum juga ketemu. Aku juga tahu kalau aku tadi duduk lantas tertidur pulas lantaran capek mencari-cari sepatu yang tidak kunjung ketemu juga. Namun begitu, aku mengerti bahwa waktu terus berlalu dan syukurlah, ini belum jam dua belas siang sehingga rencanaku untuk kekota tidak akan aku batalkan. Namun begitu, aku merasa hampir putus asa dan malas untuk mencari sepatuku lagi ketika kemudian tiba-tiba aku teringat kalau aku belum mencari ke bawah kursi yang sedang aku duduki. Maka dari itu, aku melongok kebawah kursi dan akhirnya aku melihat bahwa sepasang sepatuku ada disana…

 

Bagikan Ini
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *