Laba-laba Jatuh Dari Sarangnya

Aku menutup pintu kamar mandiku. Selesai mandi begini seperti biasanya tubuhku terasa segar. Aku kemudian menyampirkan handukku diatas jemuran dengan melebarkannya. Ini memang harus dilakukan agar cepat kering. Kalau sudah kering nanti bisa dipakai lagi, begitu pikirku. Kemudian aku melanjutkan langkahku memasuki rumahku melalui pintu belakang. Setelah sukses menutup pintu belakang tanpa suara yang keras, aku berjalan menuju kamarku. Di depan pintu kamarku aku melihat ada sarang laba-laba menutupi sudutnya. Aku baru sadar kalau ada sarang laba-laba di situ secara tadi pagi aku sama sekali belum melihatnya. Aku mendekatinya perlahan-lahan sementara sarang laba-laba tersebut terlihat bergoyang-goyang. Mungkin dia tertiup angin, mungkin juga penghuninya bergerak menjauh karena merasa terganggu oleh kedatanganku…

Spiderman  menghindari lemparan senjata Venom  yang mengarah tepat ke ulu hatinya. Dia melompat jauh sekali ke kanan. Berhasil terhindar dari malapetaka, dia terhenyak kaget dengan bulu kuduk merinding. Kenapa begitu? Selidik punya selidik ternyata dia melihat bahwa senjata milik lawannya yang gagal mengenai dirinya terus melaju lurus dan menghantam lantai beton di puncak pencakar langit setinggi 28 lantai tempat dia berada saat ini. Bukan seperti kerusakan seperti yang terjadi akibat ledakan bom atom di saat Perang Dunia 2, namun tetap saja kerusakan yang ditimbulkan sangatlah mengerikan. Bayangkan saja, beton yang hampir setebal 30 cm bisa berlobang dengan diameter lebih kurang 1 meter. Tidak perlu berpikir lama-lama, pastilah dada manusia laba-laba itu akan berlubang besar dan tidak akan pernah bisa disembuhkan lagi jika terkena olehnya…

Ah biarin saja, pikirku. Sepertinya aku tidak akan berubah menjadi mutant jika digigit oleh laba-laba itu. Perubahan itu hanya terjadi pada Spiderman, dan itupun hanya terjadi di dalam film saja. Demikian aku termenung saat tepat berada di depan sarang laba-laba yang baru aku lihat siang ini di depan pintu kamarku. Aku kemudian membalikkan badanku ke arah dapur untuk mengambil kemoceng untuk membersihkan sarang laba-laba yang telah aku sebutkan diatas. Kalau tidak dibersihkan, kemungkinan besar akan tersenggol secara tidak sengaja oleh aku atau oleh siapapun yang melewatinya. Jika saat itu aku sedang tidak memakai pakaian yang bersih itu tidak menjadi masalah karena akan segera aku cuci. Lain halnya kalau aku memakai pakaian yang bersih maka akan terasa sayang sekali.

Aku bergegas menuju arah dimana sarang laba-laba yang akan aku bersihkan berada dengan kemoceng di tangan. Tepat di depannya, tiba-tiba aku melihat laba-laba penghuninya meluncur turun dan kemudian berlari dengan cepat kearah sudut rumah; kemudian menghilang di bawah meja yang memang berada tepat di sampingnya. Aku menghela napas panjang menyadari kegagalanku untuk menyingkirkan laba-laba tersebut. Oh, tidak begitu juga sebenarnya, soalnya yang penting sarang laba-laba tersebut sudah tidak ada lagi di depan pintu kamarku sehingga terlihat bersih dan sedap dipandang mata. Maka dari itu, aku kemudian menyapukan kemocengku secara perlahan ke arahnya.

Memang benar juga sarang laba-laba itu mengandung perekat. Buktinya, dia lengket di kemocengku setelah aku bersihkan dengannya. Namun begitu, aku tidak berhenti sampai di sini saja. Aku ulang-ulangi aksi membersihkan sarang laba-laba itu sampai aku lihat sudah tidak tersisa lagi di depan pintu kamarku. Setelah selesai, aku mengembalikan kemoceng tersebut ke dapur tempat dimana aku mengambilnya tadi. Tentu saja kemoceng tersebut menjadi kotor, dan itupun aku sudah mengerti. Secara aku tidak mau dimarahi oleh ibuku karena meninggalkan kemoceng yang kotor begitu saja di tempatnya, maka aku membawanya ke samping kamar mandi dan kemudian mencucinya sampai bersih. Karena saat ini matahari bersinar terang dan terasa panas, sekalian saja aku menjemur kemoceng yang sudah aku cuci tadi di atas atap seng kamar mandiku agar segera kering sebelum disimpan kembali di tempat semula.

Aku kemudian mencuci tangan dan kembali berjalan menuju kamar tidurku. Aku ingat aku harus memakai setelan kemeja lengan panjang berwarna putih serta celana kain yang warnanya hitam agar terlihat sopan dan profesional di mata petugas penerima tenaga kerja tempatku nanti melamar pekerjaan. Kalau tidak terlihat sopan dan tidak profesional aku takut lamaranku akan di tolak sehingga aku akan menganggur lebih lama lagi. Oh iya, bagi yang belum tahu aku ini seorang pengangguran, tetapi tidak termasuk pada golongan pengangguran sukses, loh. He he he. Mungkin memang sudah menjadi nasibku semenjak lulus bangku kuliah tahun lalu dewi fortuna tidak mau menanggapi siulanku, akibatnya aku tidak pernah merasakan kebahagiaan setitik pun karena lamaran kerjaku belum ada yang menanggapi secara positif seperti yang selama ini aku harapkan.

Sesampainya di dalam kamarku, aku kemudian mengganti kaos lengan pendek yang aku kenakan dengan kemeja warna putih milikku. Bukan kemeja putih yang bagus dan bersih, melainkan kemeja “putih” yang sederhana dapat di belikan oleh ibuku beberapa waktu yang lalu. Memang waktu itu ibuku sangat berharap aku segera mendapatkan pekerjaan. Itu terlihat saat aku mau melamar pekerjaan ke sebuah industri yang terletak agak jauh di sana di dekat kota. Waktu itu ibuku rela menyisihkan uang belanjanya untuk membeli kemeja tersebut diatas…

Bagikan Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *