Ibu, Ayah, Dan Kamar Mandiku

Aku adalah seorang laki-laki yang dilahirkan oleh ibuku yang tinggal di Mawar Mekar. Ibuku merupakan seorang wanita yang tidak terkenal, bahkan cenderung tertutup. Tidak banyak yang tahu bagaimana kehidupan ibuku yang sebenarnya…

Setelah selesai mencuci tangan di kolam kecil belakang rumahku, aku berjalan masuk ke dalam rumahku. Teringat kalau belum mengisi perut dengan sesuatu pun, aku berjalan ke dapur. Di dapur, aku melihat ke atas meja makan. Aku menghampirinya, kemudian membuka tutup makanan besar terbuat dari plastik. Tutup makanan besar tersebut berwarna merah dengan lubang-lubang yang banyak seperti keranjang, tetapi bersih. Mungkin tujuannya agar uap makanan bisa keluar sehingga makanan panas yang didalamnya tidak cepat basi. Namun begitu, tutup makanan model seperti itu juga memberi kesempatan kotoran untuk masuk dan mengotori makanan yang ada di dalamnya.

Aku membuka tutup makanan tersebut. Aku melihat ada beberapa potong tempe goreng kering diatas piring porselen berwarna putih. Sementara itu, ada tempat nasi terbuat dari plastik berwarna hijau berisi beberapa gumpal nasi putih, mungkin nasi kemarin yang belum habis. Tidak tercium bau darinya, mungkin karena kemarin sebelum dimasak berasnya dicuci bersih dengan dibilas beberapa kali memakai air bersih. Tentu saja mencuci beras tidak pakai sabun, semua orang juga tahu itu. Mungkin juga karena saat penyimpanannya tidak ditutup rapat melainkan tutup makanan besar yang aku sebutkan diatas tadi. Hal itu menyebabkan uapnya tidak diam saja disitu tetapi hilang tertiup angin.

Aku mengambil sepotong tempe, setelah tengok kiri tengok kanan aku segera memakannya. He he he. Aku bakalan dimarahi ibu kalau ketahuan makan tempe doang tanpa nasi. Setelah tempe masuk mulutku semua, aku cepat-cepat meletakkan tutup makanan sehingga tempe dan nasi tertutup semuanya. Aku kemudian berjalan ke arah rak piring dan gelas. Sesampainya disana, aku mengambil satu gelas kaca yang ukurannya kira-kira 200ml. Aku tuangkan air putih dari wadah air yang terbuat dari plastik yang berwarna hijau. Semuanya serba plastik sekarang. Dari tutup makanan, tempat nasi, juga wadah air semuanya begitu. Mungkin tidak apa-apa, mungkin juga akan bermasalah nantinya. Tetapi memang semuanya sekarang memakainya, jadi kalau ada apa-apa banyak temannya, demikian itu pikirku.

Setelah gelas airku penuh dengan air putih, aku kemudian meminumnya agar tempe yang aku makan tadi bisa sepenuhnya masuk ke dalam lambungku. Aku kemudian meletakkan gelas kaca tersebut di atas meja makan, barangkali saja nanti aku perlu minum lagi maka aku tinggal menggunakannya lagi. Hal ini tidak membuatku perlu mengambil gelas baru dari rak piring & gelas yang ada di dapurku.

Aku teringat kalau mau ke kota bersama Arjuna hari ini, maka segera saja aku berjalan perlahan ke kamar mandi untuk segera mandi dan bersiap-siap. Sesampainya di depan kamar mandi aku mengambil handuk berwarna merah kesayanganku. Handuk tersebut tersampir diatas jemuran yang dibuat dari tali plastik berwarna hijau. Tidak sangat bersih, tetapi masih bisa dipakai, bisikku di dalam hati. Dari pada mengambil yang bersih di lemari di kamarku, mendingan pakai handuk yang ini saja. Kenapa begitu? Soalnya aku harus berjalan kembali lagi ke kamarku dan itu memakan sedikit waktu dan tenaga yang mana aku bisa terlambat mandinya. Jika aku terlambat mandinya, kemungkinan besar Arjuna akan keburu datang dan dia akan kelamaan menungguku di emperan. Kan kasihan tuh, pikirku.

Handuk merah itu aku sampirkan di pundak kananku, kemudian tangan kiriku mengambil tempat sabun milikku yang ada diatas tembok pinggir sumur. Sumur tersebut ada di depan kamar mandiku. Namun demikian, aku tidak perlu bersusah-susah menimba air lagi soalnya sudah dipasangi pompa air listrik oleh ayahku. Bukannya murah, tetapi ayahku termasuk orang yang terbiasa mencari uang sehingga memasang pompa air listrik bukanlah hal yang sulit baginya. Ayahku adalah seorang pedagang ternak yang termasuk didalamnya berdagang kambing, sapi, dan lain-lain. Mungkin ayahku jika perlu beli sesuatu tinggal menaikkan harga ternaknya biar dapat untung besar atau bagaimana entahlah aku kurang begitu paham. Aku pun tidak berani tanya macam-macam sama ayah mengenai hal itu takut malah jadi dimarahi nantinya. Oleh sebab itu, rasa penasaran milikku pun aku simpan dan kubur dalam-dalam entah dimana.

Aku membuka pintu kamar mandi dengan tangan kananku yang tidak memegang apa-apa. Kemudian, aku melangkahkan kakiku ke dalam kamar mandiku yang mana tidak perlu dinyalakan lagi lampunya. Hal ini dikarenakan sinar matahari bisa langsung menerobos masuk melalui celah-celah di atas dindingnya.

Lututku terasa perih saat aku mengguyur tubuhku dengan air menggunakan gayung plastik berwarna hijau tua milikku. Namun demikian, menurut perasaanku, rasa sakit itu sudah tidak seperih tadi malam. Mungkin mulai sembuh, begitu pikirku. Namun begitu, untuk berjalan yang cepat masih terasa agak sakit. Mungkin besok juga sembuh. Kalau besok tidak sembuh ya berarti lusa akan sembuh, demikian seterusnya pikirku. Hal ini aku lakukan sambil tetap mengguyur tubuhku dengan air…

 

Bagikan Ini
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *